Jangan kau rubah status rizkimu

Setiap makhluk yang terlahir di dunia, sudah dilengkapi dengan jatah rizkinya. Tidak ada satu makhluk melatapun yang tidak mempunyai rizki, inilah jaminan dari Alloh Swt. Oleh karena itulah, menurut seorang Ustadz kita tidak diperintahkan untuk mencari rizki, melainkan menjemputnya. Loh, apa bedanya..? Iya, kalau kita mencari itu untuk sesuatu yang belum ada, sedangkan menjemput itu untuk sesuatu yang sudah pasti ada. Namun masalahnya, karena keterbatasan pengetahuan kita, terkadang kita tidak bertemu dengan rizki yang akan kita jemput tersebut. Atau kalaupun berhasil bertemu, mungkin yang kita dapatkan kurang dari jatah kita yang sebenarnya ataupun telah berubah statusnya dari halal menjadi haram. Loh, kok bisa..?

Suatu saat, Sayyidina Ali k.w sampai di sebuah Masjid dengan menunggangi seekor unta. Di pelataran Masjid, Beliau melihat seorang pemuda yang sedang duduk-duduk santai. ‘Hmm, kasian pemuda ini tidak mempunyai pekerjaan. Saya akan memberinya 2 dinar sebagai upah menjaga unta saya selama saya sholat.’, Beliau berkata dalam hati, seraya mengikat unta sebagai bentuk ikhtiar. ‘Hai pemuda, maukah kamu menjaga unta saya selama saya Sholat..?’ tanya Sayyidina Ali k.w kepada pemuda tersebut. ‘Oh, tentu saja tuan.’ jawab pemuda itu singkat. Lalu Sayyidina Ali k.w pun masuk ke dalam Masjid untuk melaksanakan Sholat.

Setelah selesai Sholat, Sayyidina Ali k.w tidak mendapati pemuda yang Beliau tugaskan untuk menjaga untanya. Dicari ke sekeliling Masjid, tetap saja tidak ditemukan. Lalu Sayyidina Ali k.w menghampiri unta Beliau dan sadarlah Beliau bahwa tameng besi yang dipasang di wajah unta Beliau telah hilang. Dalam keadaan bingung, Beliau dihampiri oleh seorang Sahabat. ‘Ada perkara apa gerangan Wahai Sayyidina Ali..?’ tanya sahabat tersebut. Lalu Sayyidina Ali k.w pun menceritakan peristiwa yang menimpanya. ‘Pasti, pemuda itulah yang mengambilnya. Saya akan susul ia ke pasar, mungkin saat ini barang tersebut sedang ia jual di pasar.’, Sahabat tersebut menawarkan bantuannya. ‘Ini, ada uang 2 dinar. Bawalah, jika memang benar ia menjual barang yang hilang itu, maka belilah olehmu seharga uang ini.’, Sayyidina Ali k.w memberikan petunjuk kepada sahabatnya.

Sesampainya di pasar, Sahabat tersebut bertemu dengan seorang pemuda yang sedang menjajakan barang mirip dengan yang diceritakan oleh Sayyidina Ali k.w. Sahabat itu pun menghampiri, ‘Hai pemuda, barang apa yang kau jual..?’. ‘Ini Tuan, ada sebuah tameng besi untuk menutupi wajah unta Tuan. Saya jual ini seharga 2 dinar.’, jawab pemuda itu. Tanpa pikir panjang, sesuai dengan petunjuk Sayyidina Ali k.w maka Sahabat ini pun membelinya seharga 2 dinar. Dan akhirnya, Sayyidina Ali k.w pun mendapakan kembali barang miliknya.

Sahabat sekalian, andaikata pemuda tadi mengerti dan mau bersabar beberapa saat saja, niscaya ia tetap akan medapatkan rizki sebesar yang sudah Alloh Swt tetapkan, yaitu 2 dinar sebagai upah menjaga unta yang dititipkan kepadanya. Namun, ia memilih menjemput rizkinya dengan caranya sendiri, yang tentu saja sekarang telah berubah statusnya menjadi haram karena hasil mencuri.

Kita perlu yakini, bahwa melakukan perbuatan haram dalam hal menjemput rizki, demi Alloh tidak akan menambah jumlah rizki kita melainkan hanya akan merubah statusnya saja menjadi haram. Menipu, memeras, mark up nilai project, memberikan success fee agar kita memenangi tender sebuah project, tidak akan mampu manambah rizki yang telah Alloh tetapkan. Bahkan, bisa saja karena kelengahan kita tergiur dengan rizki haram, Alloh Swt mengambil seluruh rizki kita, termasuk yang halal juga diambil. Kita saksikan hari-hari ini di televisi kita, pejabat yang terbukti korupsi selain kehilangan yang ia korupsi, juga kehilangan jabatan, karir dan bahkan hartanya disita, padahal boleh jadi harta tersebut tidak semuanya diperoleh dengan cara korupsi.

Alloh Swt mempersilakan kita untuk memilih jalan mana yang akan kita ambil. Apa cara-cara haram yang cuma akan merubah status rizki kita, ataukah cara-cara yang Rosululloh saw ajarkan untuk memperluas rizki kita. Yaitu hanya dengan 2 cara, memperbanyak sedekah dan menyambung tali silaturrahim. Semoga kita dibimbing untuk tetap sabar dan istiqomah menempuh cara-cara yang halal yang tentunya akan selalu memberikan keberkahan pada rizki kita. Amin.

Wallohu a’lam,

anto

About riestianto

a son, a brother, a future husband.. :) |jual jersey di @jersey_holic | 21F49CE7 | pelaku #srudukfollow | #JOSH

Posted on Juli 24, 2008, in J a i m (Jaga Iman). Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. makasih To, ngebuka hati gw utk menjemput yg halal.
    Keep going on writing sometings good….May Alloh keep bless u. Wassalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: