Kita selalu diawasi

‘Wew, udah lama juga nih gak di-update dengan tulisan baru. Payah bgt siy, kasian kan yang udah berkunjung ke sini..🙂 Ya udah, saya coba dulu ya, mudah-mudahan masih bisa nulis sesuatu yang manfaat.. amin’

Hari ini, kalau kita berkunjung ke tempat-tempat umum seperti mal, hotel, kampus sering kita jumpai sebuah alat yang dapat memantau gerak-gerik kita. Kamera kecil yang biasanya diletakkan di pojok ruangan dengan sudut pengambilan gambar yang telah diatur sedemikian rupa (agar dapat memantau seluas daerah yang diinginkan) tersebut dinamai cctv. Bahkan, di beberapa tempat yang saya kunjungi pihak pengelola memberikan informasi yang jelas kepada pengunjung tentang keberadaan alat tersebut. Memang, agak jarang sih yang bertindak demikian dan oleh karena itulah dahulu yang terlintas di pikiran ini alat tersebut adalah ‘kamera tersembunyi’.

Iseng saya bertanya kepada salah satu pengelola kenapa mereka menginformasikan hal ini secara jelas kepada pengunjung, dan saya mendapatkan jawaban di luar perkiraan saya. ‘Mas, kami sengaja memasang informasi ini agar para pengunjung sadar bahwa dirinya sedang diawasi sehingga mereka tidak punya niat melakukan hal-hal yang dapat merugikan dirinya sendiri.’ Wah, Subhanallooh.

Dulu sih taunya cuma kalo kita sedang diawasi, perasaan jadi jengkel banget. Diawasi berarti ada pihak lain yang tidak percaya kepada kita, merasa dibatasi ruang geraknya, masih dianggap anak kecil dan sebagainya. Ternyata dibalik itu semua ada tujuan baik yang dapat menyelamatkan kita. Namun memang, karena kita belum dapat ‘melihat’ tujuan mulia itulah kita jadi jengkel. Pantas saja ada anak yang bete karena senantiasa diawasi oleh orangtua mereka. Para sineas, juga tidak sedikit yang menginginkan lembaga pengawas bagi karya mereka dibubarkan. Membatasi kreatifitas dan karya seni, dalih mereka. Dan sekarang, di mana kita sedang berada pada euforia kebebasan, seolah-olah kita tidak lagi memerlukan pihak lain yang mengontrol kita.

Padahal kalau kita mau jujur, justru di saat kita sadar sedang diawasi itulah perilaku kita jadi terpelihara. Di jalan, ketika kita melihat beberapa polisi mengatur lalu lintas, kita tiba-tiba menjelma menjadi pengendara yang baik. Mematuhi rambu, memperhatikan hak orang lain. Dan ketika tidak ada polisi, kita terkadang bertindak semaunya. Pada saat ujian, kita cermat sekali memperhatikan posisi pengawas sehingga kita tahu benar kapan bertindak agar tidak ketahuan melakukan kecurangan. Apalagi di depan calon mertua, wuihh lebih hebat lagi perilaku kita. Sikap duduk, berjalan, berbicara, di atur sedemikian rupa sehingga timbul kesan kita adalah orang yang baik di hadapan mereka.

Andaikata kita dapat memaksimalkan kesadaran senantiasa diawasi ini, maka potensi kita untuk selamat di dunia dan akhirat menjadi lebih besar. Sadarilah, betapapun tidak ada kamera, tidak ada polisi, tidak ada kpk, senantiasa ada Alloh swt yang Maha Mengawasi. Dia-lah Ar-Roqiib, yang pengawasannya maha sempurna, melebihi kecanggihan sistem pengawasan manapun yang ada saat ini. Bukan untuk membatasi, tetapi lebih karena Alloh swt sangat menginginkan keselamatan kepada seluruh hamba-NYA.

Wallohu a’lam,

anto

About riestianto

a son, a brother, a future husband.. :) |jual jersey di @jersey_holic | 21F49CE7 | pelaku #srudukfollow | #JOSH

Posted on Februari 13, 2009, in J a i m (Jaga Iman). Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: