Mengingat kematian

Kembali hati kita teriris melihat penderitaan yang di alami saudara-saudara kita yang berada di Situ Gintung dan sekitarnya. Korban bencana yang diakibatkan jebolnya tanggul itu telah mencapai puluhan orang, dan ratusan orang lagi dikabarkan hilang. Besar kemungkinan sebagian dari mereka pun telah meninggal. Inna Lillaahi Wa Innaa Ilaihi Roojiuun. Semua yang ada adalah milik Alloh, dan pasti akan kembali kepada-NYA.

Kalau kita mau memperhatikan, musibah-musibah besar yang di alami negeri ini terjadi pada pagi hari. Di mana saat itu adalah saat kita sedang terlelap dalam tidur panjang kita. Sehingga tanpa kita sadari maut sedang menghampiri kita. Tsunami di Aceh, Gempa di Yogyakarta dan Banjir bandang di Situ Gintung adalah contohnya.

Akhi, kematian adalah suatu keniscayaan. Tak akan pernah bisa tertolak ataupun dimajukan. Setiap kita yang bernyawa, pasti akan merasakan mati. Tidaklah penting kapan dan bagaimana kita menjemput kematian kita. Semua pasti dalam keindahan rancangan-NYA. Yang terpenting adalah bagaimana kondisi kita ketika Sang Maut melaksanakan takdirnya. Perhatikan firman Alloh Swt, ‘Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Alloh dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kamu sekalian meninggal kecuali dalam keadaan Islam/beriman kepada Alloh.’

Tampak jelas dalam ayat ini, bagaimana Alloh memperingatkan kita untuk senantiasa siap menyambut datangnya kematian. Bukan Islam yang tertulis dalam KTP kita yang akan dijadikan tolok ukurannya, namun iman dalam hati kitalah yang menentukan segalanya. Bayangkanlah bahwa sungguh indah, ketika air besar itu datang menyapu rumah kita, kita dalam keadaan berwudhu, sehabis sholat tahajjud, beristighfar di saat sahur, dan sedang bersiap menyambut Shubuh berjamaah di Masjid.  Subhanallooh. Mungkin tidak akan pernah ada penyesalan dalam kematian kita tersebut. Pantas saja pernah kita dengar mungkin, saudara-saudara kita di Palestina merasa heran kepada dunia yang mengasihani mereka. ‘Hey, kalianlah yang perlu dikasihani sebab tidak mendapatkan kesempatan mati dalam keadaan khusnul khotimah, mati syahid.’ Tidak pernah ada ketakutan dan keraguan sedikitpun dalam hati mereka terhadap kematian. Datangnya malah disambut, layaknya suatu moment besar yang paling dinantikan.

Namun demikian, Alloh swt juga memberi kita pelajaran dengan memperlihatkan kepada kita orang-orang yang berada dalam keadaan kurang baik pada saat kematian itu datang. Belum sempat bangun untuk sholat shubuh, karena semalaman lelah habis begadang. Dan yang lebih parah, belum sempat bertobat, karena selalu menganggap bertobat itu nanti sajalah kalau sudah tua. Padahal kematian itu tidak pernah memilih usia. Merekalah, yang ketika sampai mengahadap Alloh selalu merengek kepada-NYA dan berkata, ‘Ya Alloh, tolong kembalikan kami ke dunia sebentar saja. Kami akan beribadah kepada-MU, bersedekah, beramal sholih.’ Namun semuanya sudah terlambat.

Rosulullooh Muhammad saw dalam salah satu sabdanya mengatakan, ‘Orang yang paling cerdas adalah orang yang senantiasa mengingat kematian.’ Oleh karena itulah, dalam peristiwa besar yang terjadi di Situ Gintung ini hendaknya membuat kita dapat mengambil hikmah untuk segera sadar bahwa suatu saat kita pun akan kembali untuk menghadap-NYA. Saat itu tidak akan berguna lagi segala harta, pangkat, jabatan maupun seluruh aksesoris keduniawian yang kita miliki. Sebelum terlambat, mari kita lihat kembali tabungan kita, keluarkan untuk sedekah. Jabatan kita, pergunakan untuk membuat bawahan kita mengenal Alloh. Carilah apapun yang dapat mengantar kita menghadap Alloh dengan bekal yang cukup. Sehingga kita senantiasa siap untuk keadaan yang paling tidak terduga ini. Selamat menikmati detik demi detik menuju kematian kita dengan iman dan amal terbaik yang bisa kita lakukan.

Wallohu a’lam,

anto

“Hidup itu sekejap, namun beresiko
Kita hidup bukan untuk hidup, tapi untuk Yang Maha Hidup
Jangan pernah takut mati, juga jangan cari mati
Tetapi rindukanlah mati,
Karena mati adalah pintu untuk berjumpa dengan-NYA”

Ust. Muhammad Arifin Ilham –

About riestianto

a son, a brother, a future husband.. :) |jual jersey di @jersey_holic | 21F49CE7 | pelaku #srudukfollow | #JOSH

Posted on Maret 30, 2009, in J a i m (Jaga Iman). Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Kematian adalah tempat peristirahatan y abadi. wew tp atut jg mati a,byk dose…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: